Monthly Archives: Oktober 2011

Pygmallion Effect

Kemarin saya membaca ulang sebuah blog teman SMA dan menemukan kalimat yang menarik:

Gue masuk SMP yang katanya dulu itu sekolah nomor satu di Bandung. Sampe sekarang, kalau ditanya sekolah di mana terus gue sebutkan nama sekolahnya, si tante atau om yang nanya pasti bilang, “Ooh disana? Pinter atuh ya kamu teh”. Nah kan? Tapi ternyata disebut pinter perjuangannya berat, kaya bawa ee setruk tronton deh. Gila. Banget. Karena UAS nya susah. Gue ulang, UAS NYA SUSAH.
[...]
Memasuki masa kuliah, nggak ada lagi om-tante yang ngomong “Oh pinter atuh ya kamu teh” saat gue menyebutkan institusi perkuliahan gue. Apa karena kampus gue terkenal banyak ayam dan mahasiswa borju??
- KF 

Wah, saya merasakan hal itu juga! (iyalah ya… soalnya kita satu SMP/SMA dan kuliah di universitas yang sama, kita sebut saja Universitas X). Memang sangat terasa sekali perbedaan antara SMP/SMA dengan saat saya kuliah. Misalnya dari tingkat kesulitannya. SMP/SMA saya memang sangat susah, beda sekali dengan Universitas X. Di Universitas X, saya bisa memperoleh nilai A – B+ – B tanpa perlu belajar mati-matian seperti waktu SMP/SMA. Ujian pun paling banyak hanya 2 mata kuliah sehari, dan yang satu lagi pasti mata kuliah pilihan. Dari tipe orang-orangnya pun sangat berbeda, di sini saya banyak sekali menemukan orang-orang yang tidak mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Mungkin mereka berada di tempat yang salah…

Tentu saja tidak semuanya seperti itu, ada juga sekumpulan orang yang punya motivasi tinggi, kemampuan yang hebat, dan kesempatan yang luas. Tapi itu di tingkat I, waktu saya semester I dan II. Seiring dengan berjalannya kuliah, orang-orang yang seperti itu malah jadi semakin sedikit. Saat saya ada di tingkat IV, banyak teman-teman kuliah yang seperti sudah “kehabisan bahan bakar” dan malah menjadi males banget. Ada yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang kurang berguna. Ada juga yang jadi seolah kehilangan arah hidup.

Kenapa ya? Ada buanyak penjelasan untuk fenomena ini, tapi saya akan bahas satu saja. Salah satu penjelasan tentang fenomena ini mungkin adalah pengaruh dari lingkungan yang tidak punya ekspektasi akan keprimaan (excellence).

Be a yardstick of quality. Some people aren’t used to an environment where excellence is expected.
- Steve Jobs

Dalam Psikologi Pendidikan, ada istilah “Pygmallion Effect”. Sebenarnya ini merupakan temuan seorang psikolog bernama Robert Rosenthal, tapi istilah Pygmallion Effect lebih banyak dikenal dibandingkan Rosenthal Effect. Pygmallion adalah nama seorang pemahat dalam kisah mitologi Yunani. 

Alkisah, Pygmallion bersumpah untuk tidak lagi tertarik pada wanita setelah dia melihat banyak wanita di kota Propoetides melacurkan diri mereka. Oleh karena itu, dia memahat sendiri patung wanita yang ideal menurut dirinya. Karena kemampuan memahatnya yang sangat hebat, patung tersebut sangat cantik dan realistik sehingga Pygmallion jatuh cinta pada patungnya sendiri. Oleh karena itu, Pygmallion memohon kepada Dewi Venus dan terus-menerus memberikan persembahan di altar agar sang Dewi mengabulkan keinginannya untuk mengubah patung tersebut menjadi wanita sungguhan.

Inti dari cerita dan konsep Pygmallion Effect adalah: ekspektasi kita terhadap suatu hal bisa berpengaruh terhadap pembentukan realita. Dalam penelitian Rosenthal, ada sekelompok guru yang diberitahu bahwa mereka sedang mengajar anak-anak jenius (padahal siswanya hanya rata-rata saja). Karena mereka memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap siswanya, maka mereka memperlakukan anak-anak tersebut seolah-olah mereka memang jenius… dan pada akhirnya, anak-anak ini justru memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi. Mengherankan ya?

Apa hubungannya dengan fenomena sebelumnya? Nah, waktu saya SMP/SMA, seluruh guru-gurunya memiliki ekspektasi bahwa siswanya adalah siswa yang pintar… iya lah pintar, soalnya lulus tes seleksi yang ketat. Karena ekspektasi yang tinggi, mereka menerapkan disiplin yang keras, pelajaran yang sulit, tugas-tugas yang berat, dan lain-lain. Ini memang berat, tapi siswa yang diekspektasi “mampu” oleh gurunya akan berusaha untuk memenuhi ekspektasi tersebut (well, nggak semua sih… ada aja yang tercecer).

Sebaliknya, di Universitas X yang seleksi masuknya sangat ringan (cukup bawa uang), ekspektasi para pengajar tentu tidak terlalu tinggi. Perbedaan ekspektasi seperti inilah yang turut membentuk sikap mahasiswa di universitas X. Seandainya ada ekspektasi yang lebih tinggi terhadap mahasiswa universitas X, mungkin para pengajar akan menerapkan standar yang lebih tinggi, aturan yang lebih ketat, dan lebih niat dalam membentuk karakter mahasiswanya. Tapi kenyataannya sih… kayaknya dosen-dosen (nggak semua sih) di Universitas X nggak terlalu berharap banyak sama mahasiswanya. Bisa lulus kuliah aja udah bagus banget kayaknya, ha..ha… makanya mahasiswanya juga hanya berusaha sekadarnya saja.

9 Jam

Kemarin ini saya ngobrol dengan Eya Grimonia saat saya kembali menjadi organizer TEDxBandung. Jadi ceritanya ini lagi H-1, terus Eya Grimonia datang malam-malam sama orangtuanya untuk check sound, karena selain menyampaikan presentasi, dia juga akan ngasih performance di sesi kedua. Untuk yang belum tahu, Eya Grimonia adalah seorang violis muda berusia 16 tahun. Setelah soundman Saung Angklung Udjo datang, Eya pun mulai check sound selama beberapa menit bersama ibunya. Setelah merasa puas, dia merapikan kembali violinnya dan menunggu kedua orangtuanya yang sedang mengobrol dengan panitia dan soundman.

Saat itulah saya kenalan dengan Eya, dan ngobrol sedikit dengan dia. Rupanya dia sudah dilatih musik sejak usia 2 tahun. Lebih spesifiknya, mulai dari usia 2 tahun dia mulai dilatih menyanyi dan mulai usia 4 tahun dia mulai memegang violin. Dia mengatakannya seolah-olah itu hal yang biasa, tapi dalam hati saya merasa sangat terkejut dan rasanya menyusuuuuuuuuuuut banget. Apa sih yang saya kerjakan waktu umur 4 tahun? Orangtua saya workaholic dan sibuk bekerja jadi kayaknya saya lagi nonton video kartun. Atau mungkin lagi nangis, soalnya saya cengeng.

Keesokan harinya, saat hari-H, Eya Grimonia datang dari pagi untuk mengecek panggung dan berbagai persiapan lainnya. Saat itu saya bertanya, “Kamu jarang ngetweet ya? Padahal pakai BB.” Saya bertanya begitu karena saya memegang akun @TEDxBandung dan beberapa kali mention @EyaGrimonia, tapi selalu baru dibalas agak malam, tidak pernah instan. Dia menjawab, “Hm… jarang banget sih. Aku nggak bisa kayak artis yang lain, kayak Pandji misalnya yang memang kuat marketingnya lewat twitter.” Terus saya nanya lagi, “Kenapa?”. Lalu dia menjawab, “Karena tiap hari latihan 9 jam.”

Damn.

Keep in mind, Eya Grimonia ini tetap mengikuti pendidikan formal seperti orang lain, jadi dia sedang berada di SMA kelas 2. Bayangin. SMA itu masuk jam 7, keluar jam 1. (Ada koreksi dari pak Budhiana, ternyata Eya itu homeschooling… wah, saya baru tahu ini. Terima kasih pak Budhiana!). Itu udah 6 jam. Ditambah 9 jam buat latihan dan 8 jam buat tidur… artinya tiap hari dia cuma ada waktu pribadi 1 jam. Itu pun pasti sudah dipotong dengan makan, mandi, dsb.

Waktu break sesi pertama di TEDxBandung, nggak banyak pengunjung yang tahu siapa Eya Grimonia. Dipikirnya dia itu peserta juga kali, haha… jadi dia muter-muter di panggung buat nyoba dapetin feelnya. Pas sesi kedua, Eya Grimonia memainkan violinnya dan… menyihir semua penonton. Semua diem. Bengong. Ga ada yang gerak. Termasuk pembicara kita yang lain, seperti Pandji. Di sesinya sendiri, Mbah Sudjiwo Tedjo saja sampai memberikan komentar bahwa Eya Grimonia itu lebih pintar dari dia dalam hal musik. Saat sesi break kedua, dia langsung dikerubungi penggemar barunya. Banyak yang ingin foto dengan cewek cantik yang berbakat ini.

Bayangin: lagu Smooth Criminal dari Michael Jackson bisa dimainkan solo dengan menggunakan violin. Bener-bener tanpa pengiring. Saya yakin, saat Eya memainkan lagu itu dan semua penonton terdiam, mereka semua sedang berpikir “Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir, di dunia ini ada yang sejago itu? Orang Indonesia pula? Dan masih di bawah umur? DAN ADA DI DEPAN GUE?

Pemikirannya pun mendalam karena memang dia sedang mempelajari filosofi musik. Topik yang dia bawakan sebenarnya tidak ringan, tapi dengan menggunakan media musik, semua penonton bisa mengikutinya, bahkan terhanyut dalam permainan Eya Grimonia.

Kita-kita yang nonton di TEDxBandung itu cuma lihat 18 menit permainan violinnya saja. Kita nggak nonton perjuangannya untuk latihan 9 jam setiap hari. Ini yang biasanya luput dari mata kita. Saya sangat yakin bahwa Eya Grimonia itu berbakat, tapi dia toh nggak coba nyoba gesek-gesek violin 5 menit dan terus langsung jadi jago kan? It takes practice to be a master. Bayangin, 9 jam setiap hari, mulai dari umur 4 tahun. Ini konsistensi, dan ini contoh yang jarang ada.

You know, Bruce Lee pernah bilang: “Saya tidak takut dengan orang yang punya 10,000 jenis tendangan. Saya takut dengan orang yang punya 1 jenis tendangan tapi sudah dilatih 10,000 kali.” Ini bener-bener terngiang kembali di kepala saya. Kita nggak boleh ngerasa congkak karena merasa sedikit lebih pintar dan berbakat dibandingkan dengan orang lain jika kita bukanlah tipe orang yang mau berusaha. Kita juga nggak perlu lah punya mental pecundang yang membuat kita nggak mau berusaha dengan alasan “emang gue nggak punya bakat! emang gue ini bodoh! emang gue ini miskin!” etc etc yang intinya menyalahkan lingkungan dan diri sendiri. Itu ga ada gunanya. Useless! Nothing!

Lah, yang punya bakat aja tetap mau usaha latihan 9 jam tiap hari kok?

Yuk, kita mulai berubah dan mau menjadi lebih seperti Eya Grimonia. Buat Eya Grimonia, usaha yang dia kerahkan setiap hari adalah 9 jam latihan. Buat kita mungkin beda. Tapi… yuk, kita berubah? Mau kan?

Resensi Buku | Ikan Kok Disuruh Terbang – Ekuslie Goestiandi

Ikan Kok Disuruh Terbang (Trilogi Pembelajaran, #1)Ikan Kok Disuruh Terbang by Ekuslie Goestiandi
My rating: 3 of 5 stars

Buku ini merupakan kompilasi artikel bapak Ekuslie di majalah Kontan. Meskipun latar belakang pendidikannya Psikologi, dia mampu membawakan berbagai topik manajemen dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Setiap artikelnya hanya 3-4 halaman, sehingga buku ini cocok untuk menjadi bacaan ketika kita sedang banyak kegiatan tapi ingin tetap melanjutkan kebiasaan membaca. Dari 50 artikel yang ada, semuanya sangat menarik untuk dibaca. Tentu saja bagi pembaca setia Kontan, banyak artikel yang pernah muncul sebelumnya… sehingga ada kesan bahwa isi buku ini bukan merupakan sesuatu yang baru. Yah, namanya juga buku kompilasi.

Sesuai dengan apa yang tertera di halaman muka, buku ini merupakan jilid 1 dari Trilogi Pembelajaran. Buku yang pertama ini lebih banyak membahas tentang Organisasi, sedangkan buku berikutnya membahas tentang Kepemimpinan dan Pengembangan Diri. Menurut saya, buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi teman-teman di Psikologi yang memiliki minat di dunia industri. Setiap istilah-istilah manajemen/ekonomi yang ada di tiap artikel dijelaskan dengan mudah, sehingga kita dapat memahami analisis penulis dengan mudah. Apabila ada mahasiswa Psikologi yang melanjutkan studi ke Magister Manajemen, rasanya buku kompilasi tulisan ini perlu dijadikan bacaan wajib.

View all my reviews

on|off, with Ndorokakung and Nila Tanzil at Common Room, Bandung

Sabtu, 1 Oktober 2011, saya menghadiri acara on|off di Common Room (www.commonroom.info). Common Room adalah sebuah “ruang bersama” yang bisa digunakan oleh berbagai orang dari komunitas di Bandung untuk mengadakan acara. Ini tempat yang asik, meskipun anehnya handphone dan modem saya selalu kehilangan sinyal saat mengikuti acara di dalam. Untung di dalam ada wifi yang lumayan kenceng.

Kembali ke on|off… ini merupakan kegiatan ‘seminar kecil’ yang jumlah pesertanya dibatasi hanya 40 orang saja. Di posternya pun ditulisnya bukan seminar, tapi workshop. Acara yang dihadiri oleh para pengguna Social Media ini diadakan di berbagai kota, termasuk Bandung. Untuk acara kali ini, mereka bekerja sama dengan Acer, Maverick, dan juga US Embassy Jakarta. Untuk yang tertarik mungkin bisa mencari tahu lebih lanjut di websitenya (www.onoffid.org)

2011-10-05_16

Pin dan kartu nama Nila Tanzil

Nah, topik yang diangkat adalah “Media Sosial untuk Perubahan”. Ada dua pembicara yang diundang; yang pertama adalah Ndorokakung, blogger yang juga dulunya pernah menjadi Chairman Pesta Blogger dan bekerja di TEMPO; yang kedua adalah Nila Tanzil, Founder Taman Bacaan Pelangi. Moderator acaranya dari pihak Common Room, yaitu Ranti Puji Agusti. Di sana, saya bertemu dengan orang yang sudah saya kenal sebelumnya, yaitu Radix (TEDxBandung, Salingsilang.com, TI ITB; dia yang mengajak saya datang ke acara ini), dan Fauzan (TEDxITB, Arsi ITB).

Ndorokakung membuka dengan materi tentang penggunaan Social Media di Indonesia yang semakin marak. Ada beberapa contoh yang ditampilkan… beberapa contohnya sudah populer karena banyak disorot oleh media lain, misalnya Indonesia Berkebun (@IDBerkebun) dan Blood4Life (@Blood4LifeID, disponsori oleh Google Chrome dan dibahas oleh Kick Andy Show). Setelah itu, dia melanjutkan dengan memberikan tips-tips yang dapat digunakan oleh orang-orang yang tertarik untuk melakukan perubahan melalui media sosial. Sebenarnya saya ingin copy materi slidenya dari pihak Common Room, tapi… lupa :P Padahal tipsnya lumayan praktis loh.

Pembicara kedua adalah Nila Tanzil, founder Taman Bacaan Pelangi, yang dulunya menempuh kuliah di Universitas Parahyangan. Berbeda dengan Ndorokakung yang topiknya general, topik yang dibicarakan oleh Nila Tanzil sangat spesifik, yaitu tentang usahanya mengembangkan Taman Bacaan Pelangi. Informasi mengenai Taman Bacaan Pelangi bisa dilihat di websitenya: http://tamanbacaanpelangi.com

Presentasi Nila Tanzil sangat keren dan menyentuh. Dia berusaha membangun sebuah Taman Bacaan di daerah Flores, NTT. Seperti yang sudah diketahui oleh banyak orang, wilayah Indonesia Timur sangaaaat terpencil dan tidak berkembang, sehingga bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan Nila untuk membawa buku dan mendirikan taman bacaan di sana. Dia juga menceritakan hambatan-hambatan apa saja yang dia temui (sangat banyak), sehingga saya merasa kagum… kok, bisa ya? Meskipun mendapatkan bantuan sumbangan buku dari berbagai pihak, Nila Tanzil pada dasarnya berjuang sendirian (saya baru tahu bahwa relawan yang membantu Nila Tanzil kebanyakan adalah bule… terus dia bertanya, kemana sih teman-teman se-Tanah Air saya?). Ini menunjukkan betapa tingginya daya juang yang dia miliki. Salute!

Iteng21

Foto bahagia anak-anak di Flores (gambar diambil dari situs Taman Bacaan Pelangi)

Setelah sesi ‘seminar’, kami pun memasuki waktu istirahat dan mendapat jatah makan siang Hokben dari panitia. Habis itu, si Fauzan pulang karena sudah kenyang (ini contoh perilaku HMP yang buruk jadi jangan ditiru, hehe :D). Panitia mengatakan bahwa sekarang ada sesi workshop. Di sesi ini, kami dibagi menjadi 6 kelompok, dan setiap kelompok diminta untuk berusaha merumuskan suatu gerakan sosial yang turut memberdayakan media sosial.

Saya mendapatkan nomor kelompok 4, bersama dengan Radix, Rikrik, Rima, dan Tika. Rupanya saya paling muda di kelompok ini, horeee :D Setelah berembuk beberapa saat (+ OOT berkali-kali karena banyak topik lucu-tapi-rada-ga-guna yang bisa dibahas), kami memutuskan untuk membahas tentang masalah kendaraan. Banyak orang yang bekerja di luar kota dan menghabiskan biaya cukup besar untuk bahan bakar saat pulang ke kotanya. Oleh karena itu, kita memikirkan sebuah konsep “Tebeng”. Intinya sih kita membuat komunitas Tebeng-menebeng yang basisnya ada di grup FB. Terus pakai website yang domainnya ada [dot]in… jadi nama websitenya www.tebeng.in :P Melalui grup FB, akan ada sejenis testimonial dari orang-orang… jadi nanti bakal ada Certified Driver dan Certified Nebeng-er :P Jadi mirip FJB kaskus ya.

Ada satu kelompok yang memikirkan konsep yang unik dan bagus, sehingga mereka mendapatkan hadiah berupa piagam dari on|off dan juga coaching dari kedua pembicara. Topik yang mereka angkat adalah Tuna Netra. Karena jumlah buku Braille di Indonesia masih sangat kurang, mereka mencoba mengusung gerakan relawan untuk membacakan buku bagi para orang Tuna Netra. Ini sangat menarik, meskipun si peserta mengakui bahwa sebelumnya pernah ada yang mencoba kegiatan tersebut di ITB. Rikrik berkomentar bahwa alamat websitenya nanti bakal jadi “www.baca.in” :P

Setelah sesi workshop selesai, kami memasuki sesi KopDar. Ini sih sesi santai, jadi cuma ngobrol-ngobrol aja. Berhubung pengunjung acara on|off adalah pengguna SocMed, ada beberapa tokoh yang menarik, seperti pemilik akun twitter yang ada twit-berbayarnya, YPBB, Greeneration, Radio Internet, dan masih banyak lagi. Di saat yang bersamaan, saya dan Radix sibuk karena itu merupakan batch I pendaftaran acara TEDxBandung (www.tedxbandung.org). Dengan melakukan kerjasama dengan Ibun, kami berhasil membuka dan menutup pendaftaran tepat waktu. Jumlah pendaftarnya sangat banyak, dalam 15-20 menit saja sudah ada 60 pendaftar! Padahal itu adalah ‘jam kagok’… soalnya nggak banyak orang yang nangkring di depan laptop pada pukul 16.00 sore di hari Sabtu (kecuali yang jomblo).

Setelah mendengarkan beberapa orang di sesi Kopi Darat, saya diingatkan kembali oleh Radix untuk pergi ke Om Duleh karena sudah ada rapat berikutnya yang menanti kami, yaitu rapat TEDxBandung. Sekian saja postingan blog (yang udah telat seminggu) kali ini!

Integritas

Postingan kali ini agak kontroversial (sebenarnya saya sering berceloteh hal-hal yang kontroversial sih). Bukan hanya karena saya menyentuh topik yang sebenarnya agak tabu untuk dibahas, tapi juga karena (bagi beberapa orang yang mengenal persona saya di dunia akademik) saya mendeskripsikan orang-orang tertentu dengan cukup spesifik sehingga pasti pembaca akan tahu siapa yang saya maksud.

Kemarin ada teman kuliah yang membahas tentang orang yang membongkar berbagai alat tes psikologi di forum diskusi internet terbesar di Indonesia. Selidik punya selidik, ternyata orang ini sudah berkali-kali gagal dalam seleksi Astra sebagai Auditor. Astra merupakan perusahaan yang banyak diminati dan dikagumi para pencari kerja di Indonesia (menurut survei Wall Street Journal Asia, Astra ada di urutan pertama, melebihi Unilever!), sehingga tentu saja seleksi berlapisnya sangat ketat. Dia pernah gagal di medical check up, sehingga dia juga menjelek-jelekkan profesi dokter. Tapi intinya dia sangat dengki dengan psikotes.

Tentu saja reply dari anggota forum tersebut sangat ramai. Reply yang ‘pro’ menggambarkan bahwa banyak orang di Indonesia yang ingin ‘mengakali’ sistem yang telah dibuat dengan cara mencari ‘jalan rahasia’. Meskipun tentu saja sekarang yang menjadi penilaian utama dalam penerimaan karyawan adalah wawancara, simulasi, dan lain sebagainya (psikotes hanya untuk screening awal). Sistem seleksi berlapis dari Astra (dan juga kebanyakan perusahaan besar lainnya, terutama MNC) juga sangat bagus sehingga hampir tidak ada orang yang bisa lolos karena melakukan manipulasi. Mungkin teman-teman yang punya minat di PIO/HR dan sudah bekerja di MNC lebih paham tentang hal ini. Tapi bukan hal itu yang ingin saya bahas saat ini.

Kasus pembocoran seperti ini mungkin terjadi karena dia memiliki teman di fakultas Psikologi yang ikut membantu membocorkan bagaimana cara kerja psikotes yang banyak digunakan dalam konteks Industri dan Organisasi. Dengan kata lain, ada lulusan psikologi yang tidak memiliki integritas.

Ada banyak sekali definisi integritas, jadi saya akan menggunakan definisi sederhananya saja: integritas adalah bertindak konsisten sesuai tuntutan peran dan kode etik profesi, baik saat disupervisi maupun dalam kesendirian. Di fakultas Psikologi, berkali-kali mahasiswa psikologi diberikan penekanan mengenai kejujuran dan integritas dalam mengaplikasikan ilmu psikologi. Dalam mata kuliah Kode Etik (baik pengantar maupun ‘pemungkas’ :P), dijelaskan bahwa salah satu dari 5 prinsip umum Kode Etik Psikologi adalah Integritas. Karena psikotes dalam konteks Industri dan Organisasi merupakan applied psychology, maka mahasiswa psikologi yang membocorkan psikotes sudah tentu tidak lagi bisa dianggap memiliki integritas. Bukankah dalam buku Kode Etik tertulis bahwa kerahasiaan perlu dijaga?

Ada seorang teman kuliah yang menurut penilaian saya tidak punya integritas. Penilaian ini sifatnya inter-subjektif, soalnya ternyata banyak juga teman-teman yang memberikan penilaian yang sama dengan saya terhadap orang ini. Dia masih belum lulus, tapi dia punya sebuah pekerjaan: mengerjakan laporan tugas mahasiswa lain. Tentu saja dia mengharapkan imbalan dari pekerjaan ini. Dalam tulisan ini, saya nggak berniat meng-’out’-kan namanya, karena tidak ada bukti konkrit… jadi ujung-ujungnya nanti cuma my words vs their words.

Orang ini saya anggap nggak punya integritas karena justru mereka suka mencitrakan dirinya sebagai orang yang baik, perhatian sama temannya, dan juga disukai oleh influencer/dosen tertentu. Orang ini pernah ditegur oleh dosen (yang praktisi psikologi) bahwa dia tidak cocok menjadi psikolog. Mungkin dosen ini bisa melihat kepribadian orang tersebut (dan nampaknya memang akurat).

Nah, bermula dari orang-orang seperti inilah pembocoran psikotes bermula. Awalnya hanya membantu mengerjakan tugas teman. Lama-lama buka jasa mengerjakan tugas teman seangkatan. Terus meningkat jadi buka jasa mengerjakan laporan praktikum teman seangkatan dan angkatan bawah. Setelah itu? Bisa saja buka jasa memberitahu bocoran psikotes atau pelatihan manupulasi psikotes. Semuanya karena uang.

Saya nggak terlalu suka orang-orang yang money-driven, soalnya mereka adalah orang-orang yang integritasnya bisa dibeli; orang-orang yang menganggap bahwa jika semakin tinggi nilai nominal suatu hal, maka hal itu makin layak untuk dikerjakan. Itu sebuah value yang bertentangan dengan values saya. Tapi teman saya pernah mengkritik dan tidak setuju dengan pemikiran saya. Katanya, saya ini nggak pernah merasakan kondisi ‘nggak punya uang’, makanya bisa dengan mudah ‘menyepelekan pentingnya uang’. Wah, berarti teman saya ini menganggap orang-orang yang merasa nggak punya duit itu semuanya bisa dibeli dengan uang dong? Kan nggak seperti itu juga ya?

Salah satu akun Twitter yang saya follow adalah @mrshananto (Ligwina Hananto). Dia adalah seorang perencana keuangan yang populer karena dia sering muncul di berbagai talkshow, salah satunya di Hard Rock FM. Dia juga CEO dari QM Financial, perusahaan yang menawarkan jasa perencanaan keuangan. Nah, dia pernah mengatakan bahwa value nomor satu di perusahaannya adalah integritas. Saya sangat setuju dengan hal itu, apalagi setelah melihat kondisi yang saya amati sekarang. Jika saya membuka biro psikologi (and I planned to do this!), saya tidak akan pernah mengajak orang-orang yang tidak punya integritas untuk bergabung dengan saya.

If you are reading this, do you know who you are?