Category Archives: Refleksi

Apollo 11

220px-apollo_11_bootprint1

Ini terjadi 43 tahun yang lalu.

Di peristiwa ini, Neil Armstrong mengucapkan kalimat ini: “That’s one small step for man, one giant leap for mankind.

Sementara itu, 43 tahun kemudian… Indonesia masih sibuk menggunakan bulan untuk menghitung kapan mulai nggak makan seharian selama sebulan. Dan ini diurusin sama pemerintah. Jadi permasalahan negara. Ada departemen khususnya. Dianggap penting banget.

sigh

not sure if small step or walking backwards to ancient civilization

Orang paling berbahaya di dunia ini…

…adalah orang-orang yang sungguh percaya bahwa mereka tahu apa yang terbaik bagi orang lain.

Jika kamu berhadapan dengan orang semacam ini, dan kamu membiarkan mereka masuk dalam hidupmu, dan kamu mempersilakan mereka mempengaruhi dirimu, kamu tidak akan bisa jadi “kamu” yang sesungguhnya. Bahkan mungkin mereka akan mencoba untuk mencegah kamu berubah menjadi “kamu” yang lain agar kamu menjadi sama dengan “kamu” yang terbaik di benak mereka.

Rashōmon (羅生門)

Pada tahun 1915, seorang penulis Jepang bernama Ryūnosuke Akugatawa menulis cerita pendek berjudul Yabu no Naka. Cerita pendek ini kemudian diadaptasi oleh Akira Kurosawa dengan judul Rashōmon. Bagi kalian yang mengaku suka film, saya sangat menyarankan untuk menonton film karya Akira Kurosawa. Keren, meskipun sebagian film-filmnya (misalnya Seven Samurai, Yojimbo, dan lain-lain) adalah film hitam putih. Oh ya, di situs Rotten Tomatoes (agregat situs review film), Rashōmon mendapatkan rating 100% fresh!

Film ini dibuka dengan adegan seorang penebang kayu dan seorang biksu yang sedang berteduh di gerbang Rashōmon. Saat ada satu orang lagi yang bergabung untuk berteduh bersama, si penebang kayu bercerita bahwa dia pernah menyaksikan suatu peristiwa yang mengerikan, yaitu pembunuhan. Tiga hari yang lalu, dia menemukan mayat samurai di hutan. Si biksu mengatakan bahwa dia juga pernah melihat seorang samurai dan istrinya berjalan ke hutan tiga hari yang lalu, dan diminta untuk menjadi saksi dalam sebuah pengadilan.

Di pengadilan itu, si biksu bertemu dengan Tajōmaru, si bandit yang mengaku telah membunuh si samurai dan memperkosa istri si samurai. Saat diminta memberikan pernyataan, dia bercerita bahwa dia berhasil memancing si samurai untuk pergi ke tempat terpencil dan berhasil mengikatnya di sebuah pohon. Lalu, dia membawa istri si samurai ke tempat itu. Pada awalnya istri si samurai berusaha membela diri, tapi kemudian “tergoda” oleh Tajomaru. Karena merasa malu, dia memohon kepada Tajomaru agar dia mau duel dengan suaminya. Tajomaru melepaskan si samurai dan mereka berdua berduel dengan gigih hingga akhirnya Tajomaru menjadi pemenangnya, lalu istri si samurai melarikan diri.

Saat istri si samurai diminta memberikan kesaksian, dia menyampaikan cerita yang berbeda. Setelah Tajomaru memperkosa dirinya, Tajomaru meninggalkan dirinya. Lalu dia memohon maaf kepada suaminya, tapi dia hanya menatap istrinya dengan dingin. Setelah istri si samurai membebaskan si samurai, dia memohon kepada si samurai agar dia membunuh istrinya supaya sang istri tidak dihantui rasa bersalah. Si samurai hanya menatap istrinya dengan tatapan dingin dan istrinya pun pingsan. Saat istri si samurai terbangun, dia menemukan suaminya sudah tewas. Dia mencoba bunuh diri tapi tidak berhasil.

Mungkin di sini kalian bingung, kenapa ceritanya berbeda? Hakim juga merasa bingung, sehingga dia meminta bantuan seorang miko untuk memanggil arwah samurai yang sudah tewas.

Arwah samurai itu bersaksi bahwa setelah Tajomaru memperkosa istrinya, Tajomaru meminta istri si samurai untuk ikut hidup bersama Tajomaru. Istrinya menerima tawaran itu dan meminta si bandit untuk membunuh sang samurai. Tajomaru sangat terkejut mendengar permintaan ini, lalu memberikan pilihan kepada si samuraI: apakah wanita ini dilepaskan saja atau lebih baik dibunuh? Istri si samurai kabur, lalu Tajomaru membebaskan si samurai dan samurai tersebut bunuh diri.

Jadi ternyata ada tiga cerita yang berbeda!

Lalu (kembali di gerbang Rashomon, tiga hari setelah pengadilan berakhir), si penebang kayu bercerita kepada biksu bahwa cerita si samurai juga -ternyata- bohong. Si penebang kayu melihat peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan tersebut, tapi dia tidak ingin terlibat dalam pengadilan.

Dalam cerita si penebang kayu, Tajomaru memohon kepada istri si samurai agar mau menikah dengannya, tapi istri si samurai malah melepaskan suaminya. Pada awalnya si samurai tidak mau berduel dengan Tajomaru karena dia tidak mau mempertaruhkan nyawanya untuk seorang wanita manja, tapi istri si samurai mengolok-ngolok mereka berdua dengan mengatakan bahwa mereka bukan pria sejati. Pada saat mereka berduel, pertarungan mereka sangat payah (tidak sengit seperti yang diceritakan Tajomaru), dan pada akhirnya Tajomaru menang setelah secara kebetulan menusuk si samurai. Pada saat itu, istri si samurai melarikan diri dan Tajomaru tidak berhasil menangkapnya.

Cerita si penebang kayu membuktikan bahwa ternyata ketiga orang itu semuanya berbohong. Biksu ini merasa terguncang karena peristiwa itu menunjukkan bahwa manusia sangat egois. Mereka selalu berusaha mencitrakan diri mereka secara positif atau memposisikan mereka sebagai korban agar mendapatkan simpati dari orang lain.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?

Kita harus lebih kritis terhadap apa yang dikatakan oleh orang lain. Jangan hanya mendengarkan apa yang dikatakan atau dilakukan oleh orang tersebut, tapi ingat juga siapa orang itu dan apa tujuannya dia mengatakan atau melakukan hal tersebut. Seringkali orang menyusun sebuah cerita atau melakukan suatu tindakan untuk menciptakan kesan baik bagi dirinya sendiri. Tidak jarang orang menempatkan dirinya sebagai korban yang perlu dikasihani, sedangkan orang lain dalam ceritanya terlihat sebagai orang jahat yang perlu dibenci oleh pengamat ceritanya.

Dengan kaitkata ,

Facing the unknown with the basics

Ada yang pernah mengatakan kepada saya (sebenarnya saya juga nggak tahu darimana dia mendapatkan data ini) bahwa sebelum ada yang menciptakan alat transportasi bernama Kereta Api, tidak pernah terlintas dalam pikiran siapa pun bahwa di dunia ini ada pekerjaan sebagai “Masinis”.

10 tahun yang lalu, internet masih belum banyak berkembang di Indonesia. Sekarang, penggunaan Social Media digital sangat marak dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebelum ada Twitter, apakah pernah terpikir ada pekerjaan sebagai analis data percakapan / Trending Topics di Twitter? Sebelum Social Media digital menjadi sangat populer seperti sekarang ini, pernahkah ada yang terpikir bahwa ada sebuah pekerjaan sebagai seorang “Social Media Strategist”?

Dunia kerja ikut bergerak maju seiring dengan perkembangan jaman, bahkan bisa lebih cepat dibandingkan perkembangan negara tempat industri tersebut berada. Apa yang kita pelajari saat ini, sebagian sudah obsolete saat kita lulus kuliah. Kemarin ini teman saya yang bergerak di dunia IT bercerita bahwa bahasa yang digunakan sudah bergeser dari C++ ke HTML5 (saya nggak ngerti maksudnya apaan -_-, tapi intinya apa yang diajarkan di kuliah justru sudah digantikan oleh teknologi baru).Tentu saja bagi orang seperti dia, beradaptasi ke teknologi baru bukan hal yang mustahil dilakukan.

Adik angkatan mengeluhkan bahwa alat tes psikologi yang diajarkan di fakultas sudah “ketinggalan jaman”. Banyak fakultas psikologi lain yang mengajarkan alat tes yang lebih modern atau justru mengganti fokus kurikulum mereka sehingga tidak lagi terfokus pada alat psikodiagnostik.

Dengan menggunakan analogi yang sama dengan teman saya di IT tersebut, saya berpikir bahwa justru kita tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Daripada mempelajari instruksi dan cara skoring alat tes “baru”, lebih baik kita mempelajari alat tes yang diajarkan di fakultas secara mendalam. Tapi jangan hanya mempelajari bagaimana cara kasih instruksinya atau cara skoringnya, tapi pelajari juga filosofi dan prinsip dasar alat tes tersebut. Biar bagaimanapun juga, alat-alat tes modern itu merupakan modifikasi atau pengembangan dari alat tes yang lama. Kalau memang merasa perlu mempelajari alat tes baru, ya ikut saja pelatihan alat tes di luar kuliah. Ada banyak sekali.

Saat saya mengontrak mata kuliah praktikum terakhir di S1, dosen saya menekankan pada saya untuk mempelajari prinsip dasar dari seluruh alat tes, agar saya bisa menciptakan alat tes saya sendiri. Setelah saya lulus dan berkonsultasi dengan beberapa psikolog (untuk belajar, bukan karena saya sakit mental), beberapa psikolog itu juga menyarankan agar saya menciptakan sendiri instrumen yang baru, sehingga hal itu menjadi nilai jual yang unik dari diri saya.

Daripada ikut arus (karena takut akan ketidakpastian di masa depan), lebih baik pelajari apa yang ada di hadapan kita sekarang dengan mendalam agar kita bisa menciptakan sendiri arus yang baru. Siapa tahu hal-hal yang sekarang dianggap “baru” itu juga akan menjadi obsolete di masa yang akan datang?

Pygmallion Effect

Kemarin saya membaca ulang sebuah blog teman SMA dan menemukan kalimat yang menarik:

Gue masuk SMP yang katanya dulu itu sekolah nomor satu di Bandung. Sampe sekarang, kalau ditanya sekolah di mana terus gue sebutkan nama sekolahnya, si tante atau om yang nanya pasti bilang, “Ooh disana? Pinter atuh ya kamu teh”. Nah kan? Tapi ternyata disebut pinter perjuangannya berat, kaya bawa ee setruk tronton deh. Gila. Banget. Karena UAS nya susah. Gue ulang, UAS NYA SUSAH.
[...]
Memasuki masa kuliah, nggak ada lagi om-tante yang ngomong “Oh pinter atuh ya kamu teh” saat gue menyebutkan institusi perkuliahan gue. Apa karena kampus gue terkenal banyak ayam dan mahasiswa borju??
- KF 

Wah, saya merasakan hal itu juga! (iyalah ya… soalnya kita satu SMP/SMA dan kuliah di universitas yang sama, kita sebut saja Universitas X). Memang sangat terasa sekali perbedaan antara SMP/SMA dengan saat saya kuliah. Misalnya dari tingkat kesulitannya. SMP/SMA saya memang sangat susah, beda sekali dengan Universitas X. Di Universitas X, saya bisa memperoleh nilai A – B+ – B tanpa perlu belajar mati-matian seperti waktu SMP/SMA. Ujian pun paling banyak hanya 2 mata kuliah sehari, dan yang satu lagi pasti mata kuliah pilihan. Dari tipe orang-orangnya pun sangat berbeda, di sini saya banyak sekali menemukan orang-orang yang tidak mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Mungkin mereka berada di tempat yang salah…

Tentu saja tidak semuanya seperti itu, ada juga sekumpulan orang yang punya motivasi tinggi, kemampuan yang hebat, dan kesempatan yang luas. Tapi itu di tingkat I, waktu saya semester I dan II. Seiring dengan berjalannya kuliah, orang-orang yang seperti itu malah jadi semakin sedikit. Saat saya ada di tingkat IV, banyak teman-teman kuliah yang seperti sudah “kehabisan bahan bakar” dan malah menjadi males banget. Ada yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang kurang berguna. Ada juga yang jadi seolah kehilangan arah hidup.

Kenapa ya? Ada buanyak penjelasan untuk fenomena ini, tapi saya akan bahas satu saja. Salah satu penjelasan tentang fenomena ini mungkin adalah pengaruh dari lingkungan yang tidak punya ekspektasi akan keprimaan (excellence).

Be a yardstick of quality. Some people aren’t used to an environment where excellence is expected.
- Steve Jobs

Dalam Psikologi Pendidikan, ada istilah “Pygmallion Effect”. Sebenarnya ini merupakan temuan seorang psikolog bernama Robert Rosenthal, tapi istilah Pygmallion Effect lebih banyak dikenal dibandingkan Rosenthal Effect. Pygmallion adalah nama seorang pemahat dalam kisah mitologi Yunani. 

Alkisah, Pygmallion bersumpah untuk tidak lagi tertarik pada wanita setelah dia melihat banyak wanita di kota Propoetides melacurkan diri mereka. Oleh karena itu, dia memahat sendiri patung wanita yang ideal menurut dirinya. Karena kemampuan memahatnya yang sangat hebat, patung tersebut sangat cantik dan realistik sehingga Pygmallion jatuh cinta pada patungnya sendiri. Oleh karena itu, Pygmallion memohon kepada Dewi Venus dan terus-menerus memberikan persembahan di altar agar sang Dewi mengabulkan keinginannya untuk mengubah patung tersebut menjadi wanita sungguhan.

Inti dari cerita dan konsep Pygmallion Effect adalah: ekspektasi kita terhadap suatu hal bisa berpengaruh terhadap pembentukan realita. Dalam penelitian Rosenthal, ada sekelompok guru yang diberitahu bahwa mereka sedang mengajar anak-anak jenius (padahal siswanya hanya rata-rata saja). Karena mereka memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap siswanya, maka mereka memperlakukan anak-anak tersebut seolah-olah mereka memang jenius… dan pada akhirnya, anak-anak ini justru memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi. Mengherankan ya?

Apa hubungannya dengan fenomena sebelumnya? Nah, waktu saya SMP/SMA, seluruh guru-gurunya memiliki ekspektasi bahwa siswanya adalah siswa yang pintar… iya lah pintar, soalnya lulus tes seleksi yang ketat. Karena ekspektasi yang tinggi, mereka menerapkan disiplin yang keras, pelajaran yang sulit, tugas-tugas yang berat, dan lain-lain. Ini memang berat, tapi siswa yang diekspektasi “mampu” oleh gurunya akan berusaha untuk memenuhi ekspektasi tersebut (well, nggak semua sih… ada aja yang tercecer).

Sebaliknya, di Universitas X yang seleksi masuknya sangat ringan (cukup bawa uang), ekspektasi para pengajar tentu tidak terlalu tinggi. Perbedaan ekspektasi seperti inilah yang turut membentuk sikap mahasiswa di universitas X. Seandainya ada ekspektasi yang lebih tinggi terhadap mahasiswa universitas X, mungkin para pengajar akan menerapkan standar yang lebih tinggi, aturan yang lebih ketat, dan lebih niat dalam membentuk karakter mahasiswanya. Tapi kenyataannya sih… kayaknya dosen-dosen (nggak semua sih) di Universitas X nggak terlalu berharap banyak sama mahasiswanya. Bisa lulus kuliah aja udah bagus banget kayaknya, ha..ha… makanya mahasiswanya juga hanya berusaha sekadarnya saja.