Arsip Bulanan: Agustus 2011

Green-Eyed Monster

O, beware, my lord, of jealousy; 
It is the green-eyed monster which doth mock 
The meat it feeds on…

— Iago, Othello

Saya kembali mendengar istilah ‘Green-Eyed Monster’ saat sedang menghadiri pertemuan Theosophical Society (waktu itu Fauziah yang mengajak saya). Pembicaranya adalah Matius Ali, pengajar di STF (belakangan saya mengetahui bahwa dia juga sudah membuat buku mengenai Filsafat India). Pertemuan itu lumayan menarik, meskipun ada beberapa hal yang masih saya tanggapi dengan skeptis. 

Masa sarjana S1 nggak ilmiah? :P

Nah, saat sedang membahas tentang warna aura (no, I’m not a believer of this BS), dijelaskan tentang makna dari beberapa warna. Rupanya hijau pun bisa memiliki makna emosi negatif, yaitu kecemburuan (atau lebih tepatnya sih ‘Envy’). Pak Matius Ali menjelaskan lagi bahwa dalam karya Shakespeare, Othello & The Merchant of Venice, ungkapan ‘Green-Eyed Monster’ digunakan untuk menggambarkan rasa cemburu.

Dalam kisah Othello, tokoh Iago mengatakan hal tersebut karena dia cemburu terhadap Cassio, yang mendapatkan kenaikan pangkat dari Othello. Hal ini membuat Iago berusaha untuk membuat Othello merasakan hal yang sama dengan cara menyebarkan banyak informasi bohong mengenai istri Othello, yaitu Desdemona. Pada akhirnya, Iago berhasil membuat Othello cemburu terhadap istrinya… sehingga sekarang kita mengenal istilah ‘Othello Syndrome‘ di dunia psikiatri dan psikologi klinis. Istilah tersebut merujuk pada kondisi pasien yang memiliki delusi pikiran bahwa pasangan mereka tidak setia atau selingkuh, padahal sama sekali tidak terdapat bukti yang dapat mengkonfirmasi pikiran tersebut (ujung-ujungnya pasien akan melakukan stalking, sabotase, atau bahkan menggunakan kekerasan).

Istilah ‘Green-Eyed Monster‘ itu pun digunakan oleh Shakespeare untuk menggambarkan kucing. Kenapa? Sebab mereka suka mempermainkan tikus sebelum akhirnya membunuh mereka, sama seperti rasa cemburu yang tidak secara langsung membunuh kita… melainkan perlahan-lahan merusak, menghancurkan, dan di saat kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, barulah kita sadar bahwa kita telah ‘dibunuh’ oleh rasa cemburu.

Dalam ilmu psikologi, ‘cemburu’ adalah kombinasi dari beberapa emosi dasar, seperti marah, sedih, dan jijik (disgust). Mungkin ada emosi lain juga yang turut menjadi bagian dari rasa cemburu, tapi saya nggak hafal. Mungkin di textbook General Psychology karya Atkinson ada penjelasan pengantar yang lebih lengkap. Malah katanya ada psikolog yang berusaha membuat suatu model yang menjelaskan bagaimana proses cemburu dapat terjadi.

Sebagai manusia, tentu sangat sulit untuk menghindar dari cengkeraman ‘green-eyed monster’ ini. Apalagi kita adalah makhluk sosial yang menjalin relasi dengan sesama manusia. Saya rasa ‘cemburu’ ini merupakan fenomena global, jadi di budaya mana pun rasa cemburu akan selalu ada. Pikiran ‘kenapa bukan saya’ atau ‘kenapa kamu memilih dia’ pasti pernah terlintas dalam pikiran para pembaca. Termasuk saya :P

Meskipun kita tidak bisa menghindar dari rasa cemburu, tapi kita masih bisa mengendalikannya. Biar bagaimanapun juga, faktor kognisi (pikiran) dapat mempengaruhi afeksi (perasaan). Istilah ‘green-eyed monster’ merupakan istilah yang sangat cocok untuk membantu kita melepaskan diri dari rasa cemburu…. jangan biarkan monster itu menggerogoti diri kita. Lepaskan saja keinginan kita untuk memiliki object/subject of desire kita, maka kita tidak akan dipermainkan oleh rasa cemburu… 

Masih Tentang Dikagumi

Malam ini saya menemukan tweet yang menarik dari seorang budayawan terkenal yang jadi sering muncul di televisi: Sudjiwo Tejo.

“Untuk jadi dikagumi tuh gampang, yg susah adalah untuk jadi dihormati. Tapi yang paling susah itu menjadi dicintai…
Selamat Malam”

Mungkin ini sederhana tapi maknanya dalam buat saya. Semoga bisa jadi bahan renungan untuk kita semua.

Kebutuhan untuk diakui lingkungan

http://t1.ftcdn.net/jpg/00/19/61/92/400_F_19619222_juKZ41aW966eHaqBaxeL1lj18ATtq2KP.jpg

 

Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk diakui. Tiap orang tentu memiliki  kadar yang berbeda-beda derajatnya untuk menentukan apakah kebutuhan tersebut sudah terpuaskan atau belum. Ada yang sudah merasa puas jika diakui oleh orang-orang terdekatnya saja, tapi ada juga orang yang merasa perlu untuk diakui oleh semua orang yang bahkan baru saja dia temui. Jika kebutuhan seseorang tidak terpenuhi oleh lingkungannya, maka kebutuhan ini tidak akan hilang… melainkan akan semakin menguat! Ini faktor penting yang dapat mempengaruhi bagaimana kita diterima dalam suatu lingkungan, sehingga biasanya beberapa perusahaan meminta assessor (pada proses screening karyawan baru) untuk mengukur hal ini :D

Kemarin ini saya mendengar cerita lucu dari teman seangkatan saya. Sebelumnya, saya perlu sampaikan dulu bahwa saya kuliah di fakultas psikologi… dan ini fakultas gosip. Jangankan gosip teman seangkatan, cerita dari angkatan bungsu saja bisa dengan cepat sampai ke angkatan senior banget di hari yang sama! Apalagi sekarang sudah jamannya social media. Nah, cerita yang saya dengar ini merupakan cerita tentang 1 orang mahasiswi (sudah lulus dari tahun kemarin sih) yang nampaknya memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk diakui, untuk dipuji, dan dianggap hebat oleh lingkungannya.

Kata teman saya, ceritanya begini: orang tersebut diminta untuk memberikan sharing tentang pengalamannya kuliah di fakultas ini dalam salah satu rangkaian acara orientasi mahasiswa baru. Nah, di atas panggung tersebut… dia banyak melebih-lebihkan prestasi yang dia raih selama kuliah. Lulus Dengan Pujian? IPKnya akhirnya nggak sampai 3,5… jadi itu sudah jelas bohong. Ini jadi bahan tertawaan teman-teman angkatan saya karena bukan cuma sekali ini saja dia ‘mencitrakan’ dirinya sebagai orang yang sukses. Sebelumnya dia pernah berbohong mengenai cita-cita, tahun kelahiran, kuliah di luar negeri, pekerjaan, dan lain-lain. Saya yakin dia tidak bermaksud melukai orang lain dengan kebohongannya; dia melakukan hal ini untuk memenuhi kebutuhannya… untuk diakui, dipuji, dianggap berhasil.

Sebetulnya kalau kita mau berpikir positif, ini merupakan win-win condition untuk semua pihak. Teman-teman angkatan saya merasa terhibur oleh lawakan berupa kebohongan baru ini, mahasiswa baru (mungkin) merasa terinspirasi, dan dia memperoleh kepuasan ego.

Saya nggak mau berkomentar terlalu banyak tentang hal ini, karena informasi yang saya dapat hanyalah informasi ‘second hand’. Saya nggak hadir secara langsung pada saat acara sharing itu, tapi orang-orang yang menjadi sumber data saya adalah orang-orang yang dekat dengan orang tersebut selama setidaknya 2-3 tahun.

Salah satu teman saya menutup lawakan ini dengan bijak: kita sebaiknya bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki, sembari terus berusaha untuk lebih berkembang ke arah yang kita inginkan secara realistis. Kalau kita melakukan berbagai hal hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan untuk diakui oleh lingkungan, lama-lama kita bukannya mengembangkan pribadi kita, tapi bisa-bisa jadi delusional (:P) seperti kakak senior yang menjadi bahan tertawaan kita ini…

 

Sumber gambar:

http://en.fotolia.com/id/19619222

Terlalu banyak platform

Image representing Twitter as depicted in Crun...

Image via CrunchBase

Sekarang ini ada banyak sekali ya media untuk mengekspresikan diri di dunia maya? Facebook dan Twitter itu dua contoh yang paling populer. Blogging juga dibuat jadi lebih mudah sekarang. Banyak yang lebih aktif di tumblr (meskipun mungkin kerjaannya cuma ngereblog aja). Saya juga mulai menggunakan posterous. Habisnya praktis banget sih kalau mau bikin postingan pendek, bisa dari HP (tapi sayang ga bisa save post as draft di app-nya, jadi harus disave di email).

Banyaknya pilihan media ini justru malah bikin saya jadi bingung mau menggunakan media yang mana. Akibatnya, jadi terdapat platform yang terbengkalai. Misalnya blog wordpress.com ini,  hehe.

Untuk ke depannya, saya akan mencoba autopost dari posterous ke blog ini, supaya nggak terlalu sepi-sepi amat. Tentunya materinya juga dipilih dong… jangan yang terlalu singkat seperti yang saya post di posterous (cuma foto doang).

Sebenarnya masing-masing platform ini punya karakteristiknya masing-masing. Di twitter, anda bisa mini-blogging dengan sangat aktif, sehari bisa ngepost sampai 50x. Tentunya kan tidak wajar kalau anda update status FB 50x dalam satu hari, alay banget gitu. Gak masuk akal juga kalau posting di wordpress 50x dalam sehari. Nulis apaan?

 

Dengan kaitkata , ,