Story Lab, M3, dan 3 Cerita

Sabtu kemarin saya pergi ke Story Lab bersama Glenn. Sebetulnya saya mengajak beberapa orang lain juga, tapi banyak yang berhalangan. Soalnya itu malam minggu, jadi yang sudah punya pasangan kayaknya males banget untuk pergi bareng saya. Di saat yang bersamaan, ada pertandingan bola, jadi yang jomblo pun belum tentu ga ada kegiatan. Maka makin sulitlah saya mengajak orang-orang yang saya kenal.

Untuk apa sih saya pergi ke Story Lab? Sebetulnya saya datang ke sana karena kabarnya ada sekelompok orang yang membuat visualisasi dari cerita pendek berjudul “Tuhan” karya Farida. Saya cukup menyukai karya Farida dan merasa cerita pendek tersebut cukup bagus, jadi saya penasaran seperti apa bentuknya dalam versi film.

Saat saya sampai di sana (Glenn jalan kaki karena ternyata Story Lab yang terletak di jalan Mangga ini sangat dekat dengan rumahnya), sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu film dimulai. Saat itu sedang hujan, jadi pasti acaranya akan molor karena pengunjungnya banyak yang telat. Saya berkenalan dengan Andi (pengurus Storylab) dan juga Andra, seorang calon sineas dari Jakarta.

Ternyata di Story Lab ada sebuah acara bulanan yang berjudul M3: Mangga Malam Mingguan. Di acara tersebut, pengunjung dapat menonton film pendek karya sineas muda secara gratis. Oh ya, mereka juga memberikan makanan dan minuman gratis… jadi ini acara yang oke banget buat anak kost, hehe.

Storylab sendiri sebenarnya merupakan ‘sekolah’ sinematografi, tapi mereka bentuknya berupa komunitas. Dengan kata lain, siapapun boleh bergabung ke dalam komunitas mereka. Saya dan Glenn baru tahu bahwa di Bandung terdapat komunitas seperti ini, padahal Story Lab ini sudah berdiri sejak tahun 2006. Nampaknya ini komunitas yang erat, soalnya waktu saya datang ke sana, mas Andi langsung tahu kalau itu merupakan yang pertama kalinya saya datang ke acara mereka.

Nah, Sabtu kemarin rupanya adalah acara M3 #14. Dengan kata lain, acara ini sudah berlangsung selama lebih dari setahun. Wow, saya salut juga dengan konsistensi dan komitmen mereka untuk mengadakan acara seperti ini. Hal yang termasuk paling sulit dalam melakukan kegiatan adalah mempertahankan agar kegiatan itu tetap berlangsung terus-menerus. Istilahnya punya sustainability gitu. Kalau bikin kegiatan yang hanya dilakukan sekali dan setelah itu gak bergaung lagi sih cenderung lebih gampang kan ya.

Di M3 #14, ada 3 film pendek yang ditayangkan: “To: Han”, “Cinta dalam Ember”, dan “99% Cinta”. Film pertama adalah “To: Han”, yang diadaptasi dari cerpen Tuhan karya Farida. Film ini dibuat oleh komunitas Semiotika Embun Pagi. Karena medianya berbeda (yang satu cerpen, yang satu lagi film), ada beberapa adegan yang dihilangkan di versi film. 

Di sesi diskusi, banyak sekali masukan yang diberikan oleh para pengunjung yang rupanya sangat cerdas. Ada juga yang mempertanyakan makna semiotika dari beberapa ‘insert’ di film tersebut (saya nggak ngerti). Ada juga yang mempertanyakan apa posisi yang dipegang oleh para pencipta film tersebut.

Oh ya, film “To: Han” bercerita tentang pergulatan batin seorang mahasiswi muslim yang galau karena temannya yang tidak beragama mengajukan diri untuk menjadi ketua senat. Padahal, kampusnya merupakan kampus yang sangat religius. Di versi filmnya, banyak adegan yang dihilangkan sehingga pergulatan batin itu kurang terlihat dan film ini malah terkesan terlalu menyederhanakan topik yang sebetulnya berat ini. 

Para pencipta film ini mengatakan bahwa posisi mereka ‘netral’, berarti mereka mengembalikan interpretasi cerita kepada penonton. Topik yang ingin mereka angkat adalah ‘menyadarkan kembali spiritualitas agama di saat agama banyak menjadi budaya’. Namun, ada pengunjung yang tergelitik dan justru berkomentar bahwa seorang sineas film itu justru tidak boleh netral. Jika perlu, sebaiknya mereka memiliki posisi yang jelas, karena film merupakan sebuah media untuk menyampaikan opini. Jika sineas film terus-menerus berada di posisi netral, maka dia tidak akan memicu diskusi dan juga tidak akan membawa perubahan pada topik yang dia angkat. Pengunjung tersebut memberikan contoh Hanung, yang mengambil sikap tegas bahwa konsep Pluralisme menurut dia adalah apa yang tergambar di film ‘Tanda Tanya’ (?). Ini komentar yang sangat menarik.

Film kedua adalah “Cinta dalam Ember”. Sesuai dengan judulnya, ini merupakan film bertemakan cinta. Ini film yang sederhana, settingnya hanya di kamar kost tokoh utamanya. Jadi, ceritanya ada seorang perempuan yang punya pacar. Terus, kita dikasih lihat adegan si cewek ini masukin berbagai barang ke dalam ember… dan di akhir film kita dikasih tau kalau ember ini tuh pemberian dari pacarnya yang nggak punya duit.

Kalian harus nonton film ini, terutama cewek-cewek. Ini film yang (kata pengunjung2 perempuan) cewek banget! Meskipun kesannya ini film yang aneh kalau saya tuliskan jalan ceritanya, tapi saat ditonton memang terasa sekali romantisnya. Ditambah lagi waktu itu nontonnya hari Sabtu, pas jam malam mingguan, dan hujan pula. Sungguh film yang sangat efektif dalam memicu kegalauan.

Film ketiga, “99% Cinta” merupakan film penutup. Waktu saya baru mulai duduk, ada orang-orang yang membagikan stikernya. Saya nggak ngerti maksudnya apa… tapi ya saya terima saya. Jalan ceritanya tentang orang tadinya nggak bisa nyanyi, tapi berusaha untuk jadi jago nyanyi. Salah satu hal yang menjadi pendorong bagi si tokoh utama adalah seorang gadis cantik yang ternyata bisu tuli.

Sebenarnya jalan ceritanya mudah ditebak. Banyak juga pengunjung yang mengkritisi jalan ceritanya yang nggak terlalu logis dan bahkan kurang menggambarkan judul filmnya. Akting si tokoh utamanya juga kok… rada aneh… dia memerankan orang yang nggak bisa nyanyi, tapi aktingnya seperti orang cacat mental yang dilebay-lebaykan. Ngomong-ngomong, pemeran gadis bisu-tulinya cantik loh… tapi versi aslinya lebih gelap daripada versi filmnya, hehehe. Ini efek lighting atau apa, saya nggak ngerti deh :D

Rasanya saya sudah menuliskan terlalu panjang, jadi tulisannya saya akhiri saja (karena memang bahan ceritanya juga sudah habis). Nah, kegiatan hari itu membuat saya mengenal sedikit tentang komunitas film di Bandung, khususnya komunitas yang mendalami tentang sinematografi. Ini pertemuan yang menarik karena sebelumnya saya tidak pernah tahu apa saja yang terjadi dalam proses pembuatan film. Ternyata sangat rumit, bahkan untuk membuat film pendek saja membutuhkan waktu dan usaha yang tidak sedikit.

Mudah-mudahan bisa datang ke acara M3 di bulan berikutnya :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: