Adversity -> Gratification

Kita tidak bisa selalu memilih apa yang akan kita dapatkan, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita memproses apa yang kita dapatkan. Istilah singkatnya sih kita bisa atur persepsi atau mindset kita. Nggak semua hal harus jadi hal negatif yang membebani pikiran kita. Kalau perlu, ubah adversity menjadi gratification.

Banyak kerjaan? Transformasi keluhan kamu jadi rasa bersyukur, karena banyak orang di luar sana yang ga bisa dapat kerjaan sama sekali. Ga punya kerjaan? Silakan bersyukur, karena banyak orang yang hampir seluruh waktunya digunakan untuk kerja di kantor, seolah-olah hanya menjadi sekrup dalam sebuah mesin bernama korporasi; sementara itu, kamu punya banyak sekali waktu yang bisa bebas digunakan untuk apa saja. Waktu banyak habis oleh organisasi dan komunitas? Ah, di tempat lain banyak yang ga punya place to belong, dan kepingin punya wadah untuk mengaktualisasikan dirinya. Ga punya pacar? Banyak kok orang yang ‘terpenjara’ dan sirik ke orang-orang single yang bisa lebih leluasa memanfaatkan waktunya. Dan seterusnya, dan sebagainya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: